Hasil SPI PendidikanLuar Negeri 2026

Mencakup satuan pendidikan Indonesia di luar negeri; tidak termasuk provinsi dalam negeri.

Jenjang pendidikan yang dihitung
SD-SMA/SederajatIndeks ini dihitung dari jenjang di atas saja. Mohon tidak membandingkannya dengan indeks lain yang dihitung dari jenjang berbeda.

Indeks total · Luar Negeri 2026

71,07

Korektif

Sudah ada upaya perbaikan integritas melalui internalisasi nilai-nilai integritas meskipun implementasi serta pengawasan belum merata, konsisten, dan optimal.

Tingkat integritas · indeks 0–100

Pilih tingkat untuk melihat definisi.

01 · Indeks

Dimensi, variabel & indikator

Semua angka di bawah adalah nilai indeks pada rentang 0–100, bukan persentase.

Ringkasan

  1. Karakter69,65Korektif
  2. Ekosistem72,23Korektif
  3. Tata Kelola71,55Korektif

24 variabel · 63 indikator

Terendah di Karakter: Berani45,37

VariabelRentangNilai dimensiTerendah

Luar Negeri 2026 → Karakter (69,65) →

Berani 45,37

Kekuatan mental atau moral untuk berani, tekun, dan bertahan menghadapi bahaya, ketakutan, atau kesulitan.

3 indikator · nilai indeks 0–100, bukan persentase

  1. Berani melaporkan orang lain yang melanggar etika walau ada risiko dimusuhi52,33
  2. Berani menegur orang lain yang melanggar etika60,93
  3. Berani menolak orang lain yang mengajak melakukan kesalahan/pelanggaran30,81

Nilai variabel merangkum hasil survei dari berbagai kelompok responden dan jenjang pendidikan. Hasilnya dipengaruhi oleh bobot serta data yang tersedia pada setiap tahap perhitungan sehingga hasilnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari semua nilai indikator yang ditampilkan.

Karakter

69,65Korektif · 10 variabel
  1. Adil67,493 indikator

    Perlakuan yang tidak memihak kepada salah satu pihak atau yang lain.

    1. Memberikan penilaian/pendapat secara obyektif dan proporsional60,25
    2. Memperlakukan sama pada setiap orang (tidak memihak/ membeda-bedakan)48,86
    3. Seimbang antara menjalankan hak dan kewajiban92,32
  2. Berani45,373 indikator · terendah

    Kekuatan mental atau moral untuk berani, tekun, dan bertahan menghadapi bahaya, ketakutan, atau kesulitan.

    1. Berani melaporkan orang lain yang melanggar etika walau ada risiko dimusuhi52,33
    2. Berani menegur orang lain yang melanggar etika60,93
    3. Berani menolak orang lain yang mengajak melakukan kesalahan/pelanggaran30,81
  3. Disiplin73,973 indikator

    Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan untuk bekerja keras atau berperilaku dengan cara tertentu tanpa perlu ada yang memberi perintah.

    1. Menyelesaikan tugas tepat waktu52,62
    2. Datang ke sekolah/kampus/kantor tepat waktu sesuai aturan yang ditetapkan76,47
    3. Mematuhi tata tertib yang berlaku di sekolah/universitas87,29
  4. Gigih78,013 indikator

    Menunjukkan sikap rajin terhadap pekerjaannya, ketekunan dalam upaya kerja, dan karakter yang rajin.

    1. Terus berusaha Ketika mengalami kegagalan71,88
    2. Belajar/bekerja tekun dan keras dalam mencapai tujuan yang diharapkan86,61
    3. Tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah atau tantangan80,95
  5. Kejujuran75,552 indikator

    Karakteristik dari seseorang yang menyajikan fakta situasi dengan akurat.

    1. Menghindari tindak kecurangan (menyontek, plagiat, mengakui karya orang lain)89,45
    2. Mengatakan yang benar/tidak berbohong (kesesuaian perkataan dan perbuatan)64,40
  6. Kerendahan Hati78,153 indikator

    Kerendahan hati adalah karakter individu yang tercermin dalam sikap mengakui kekurangan diri, menerima kelebihan orang lain, tidak merendahkan orang di sekitarnya, memberikan pujian dan mengakui pentingnya orang lain, serta mampu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.

    1. Mensyukuri segala hal yang dimiliki, tidak mudah iri dan tergiur dengan yang dimiliki orang lain70,56
    2. Membeli dan menggunakan barang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan71,24
    3. Menjaga sikap dan perilaku dari keinginan menonjolkan diri dalam pergaulan88,33
  7. Mandiri61,334 indikator

    Tidak dipengaruhi atau dikendalikan oleh orang lain dalam hal pendapat, perilaku, dan lain-lain; mampu berpikir atau bertindak untuk diri sendiri.

    1. Mampu bekerja/ menyelesaikan tugas sendiri tanpa bantuan/ tergantung/diarahkan oleh orang lain83,74
    2. Tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain dalam mengambil keputusan atau tindakan61,82
    3. Mampu mengatur waktu dengan baik43,25
    4. Memiliki inisiatif dan bersikap proaktif dalam meningkatkan kemampuan/ pengetahuan49,18
  8. Menghargai66,882 indikator

    Menghargai keberagaman pendapat dan memanfaatkan peluang untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam berdiskusi.

    1. Tidak merendahkan orang lain72,94
    2. Menghargai pendapat/pemikiran orang lain meskipun berbeda59,05
  9. Peduli72,723 indikator

    Kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain dari sudut pandang orang tersebut dan juga membayangkan diri sendiri berada di posisi orang tersebut.

    1. Berbagi ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki yang dibutuhkan oleh orang lain57,54
    2. Membantu orang lain yang mengalami kesulitan dengan ikhlas (tanpa diminta)78,70
    3. Tidak mengganggu kenyamanan orang lain75,15
  10. Tanggung Jawab71,263 indikator

    Karakter seseorang yang bertanggung jawab atas tindakan dan pekerjaan yang dilakukannya serta berusaha untuk mencegah tindakan yang tidak senonoh oleh orang lain.

    1. Melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh hingga selesai77,88
    2. Siap menanggung risiko dari perbuatan yang dilakukan62,50
    3. Menepati janji68,24

Ekosistem

72,23Korektif · 6 variabel
  1. Dukungan76,354 indikator

    Kondisi di mana suatu ekosistem mendukung dan mengapresiasi penerapan nilai-nilai integritas oleh individu-individu di dalamnya sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan dihargai pada individu-individu tersebut.

    1. Memberikan motivasi kepada siswa agar semangat berperilaku baik77,26
    2. Memberikan dukungan untuk berani bersikap benar dan baik82,03
    3. Memberikan ruang untuk berani berbicara, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat69,34
    4. Memberikan kepercayaan pada kemampuan siswa66,99
  2. Inklusivitas67,142 indikator

    Kondisi di mana setiap individu dalam suatu lingkungan memiliki keterlibatan penuh dan setara dalam penerapan nilai-nilai integritas.

    1. Mengakui dan menghargai setiap orang tanpa terpengaruh oleh keragamanan latar belakang dan status53,82
    2. Memberikan pelayanan pendidikan tanpa terkecuali69,58
  3. Kepemimpinan65,102 indikator · terendah

    Kemampuan seseorang untuk melaksanakan tanggung jawabnya serta saling menguatkan dengan individu-individu lain dalam organisasi sebagai satu kesatuan untuk mencapai ekosistem berintegritas.

    1. Kemampuan mengelola dan mengatasi pesoalan dengan baik60,94
    2. Mempengaruhi orang lain untuk beritindak sesuai yang diharapkan70,87
  4. Keteladanan76,052 indikator

    Kesesuaian antara apa yang diucapkan oleh seseorang sebagai wujud pemikirannya dengan apa yang dilakukan oleh orang tersebut sebagai wujud penerapan konkret atas suatu tindakan berintegritas.

    1. Memberikan keteladanan kepada setiap orang75,65
    2. Tindakan untuk tidak melakukan pelanggaran aturan75,73

    Nilai variabel merangkum hasil survei dari berbagai kelompok responden dan jenjang pendidikan. Hasilnya dipengaruhi oleh bobot serta data yang tersedia pada setiap tahap perhitungan sehingga hasilnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari semua nilai indikator yang ditampilkan.

  5. Profesionalitas79,053 indikator

    Kemampuan seorang individu untuk menjalankan tugas, peran dan tanggung jawabnya dengan memerhatikan kualitas dan kesungguhan dalam menghindari penyimpangan dari nilai-nilai integritas.

    1. Memiliki disiplin yang baik dalam menjalankan tugas dan kewajibannya85,55
    2. Mengedepankan nilai-nilai integritas dalam perilaku integritas akademik di sekolah/kampus77,46
    3. Memiliki tanggung jawab yang tinggi sesuai kedudukan, peran dan fungsinya85,26
  6. Resiliensi70,042 indikator

    Keberhasilan seseorang dalam mempertahankan diri untuk berintegritas meski berada di lingkungan yang tidak mendukung.

    1. Kondisi eksternal dan pengaruh dari pihak lain yang memungkinkan seseorang untuk berperilaku etis/tidak etis74,18
    2. Kondisi internal dan dorongan kuat dari dalam diri sendiri untuk berperilaku etis/tidak etis66,64

Tata Kelola

71,55Korektif · 8 variabel
  1. Akuntabilitas84,713 indikator

    Prinsip dalam tata kelola pendidikan yang menekankan pertanggungjawaban atas penyelenggaraan dan kinerja pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) sekolah.

    1. Mampu menjelaskan setiap standar perilaku etik yang ditetapkan oleh sekolah.88,17
    2. Melaksanakan pengelolaan dana sekolah/perguruan tinggi secara bertanggung jawab83,39
    3. Mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan yang diambil secara proporsional.85,15
  2. Efektivitas dan Efisiensi43,742 indikator
    1. Penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran sesuai kebutuhan.55,10
    2. Alokasi tenaga pengajar yang sesuai dengan jumlah siswa/mahasiswa.30,56
  3. Independensi Lembaga18,981 indikator · terendah

    Kemampuan mengelola keputusan dan kebijakan berlandaskan pemikiran objektif, informasi faktual dan substansial dengan mengutamakan penegakan integritas.

    1. Tidak dapat dipengaruhi oleh pihak lain manapun dalam menentukan kebijakan sekolah/kampus.18,98
  4. Keadilan Layanan82,863 indikator

    Komitmen para pemangku kepentingan dalam memberikan pelayanan yang adil kepada seluruh penerima manfaat (beneficiaries) terkait dengan tata kelola satuan pendidikan pendidikan.

    1. Memberikan kesempatan yang sama/tidak memihak/inklusif kepada setiap orang dalam penerimaan dan promosi tenaga guru/dosen, tenaga pendukung, dan kepala sekolah/pimpinan perguruan tinggi.82,89
    2. Memberikan kesempatan yang sama/tidak memihak/inklusif kepada setiap orang dalam penerimaan siswa/mahasiswa.84,82
    3. Memberikan kesempatan yang sama/tidak memihak/inklusif kepada setiap orang dalam pengadaan barang dan jasa68,76
  5. Kepatuhan Aturan81,062 indikator

    Komitmen para pemangku kepentingan dalam menjadikan peraturan yang berlaku sebagai acuan utama dalam melakukan segala aspek tata kelola satuan pendidikan.

    1. Kepatuhan dalam melaksanakan Kepatuhan Aturan terhadap kode etik/tata tertib sekolah/ perguruan tinggi.85,72
    2. Pemanfaatan dana dengan kehati-hatian dan sesuai dengan tujuan pengumpulan dana.69,23
  6. Partisipasi69,482 indikator

    Adanya keterlibatan stakeholder dalam perumusan dan pengambilan kebijakan lembaga, baik langsung maupun melalui lembaga/komunitas lain yang secara resmi mewakili stakeholder.

    1. Keterlibatan stakeholder dalam penyusunan Rencana Pengembangan (program kerja dan penganggaran) Sekolah/PT melalui penyampaian pendapat, saran dan keinginan.86,16
    2. Keterlibatan orang tua dalam monitoring kemajuan siswa/mahasiswa67,08
  7. Penegakan Aturan64,213 indikator

    Komitmen para pengelola lembaga pendidikan untuk menegakkan aturan secara konsisten dalam mempertahankan kinerja lembaga dan menguatkan implementasi nilai integritas.

    1. Peraturan di sekolah/ perguruan tinggi dilakukan berdasarkan hukum yang berlaku.40,66
    2. Menerapkan hukuman terhadap pelanggaran yang dilakukan warga sekolah sesuai aturan yang berlaku.64,29
    3. Kemampuan peraturan untuk mendorong terciptanya integritas tata kelola79,36
  8. Transparansi73,363 indikator

    Prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi semua orang untuk memperoleh informasi tentang pemerintahan (lembaga), yaitu informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil yang dicapai.

    1. Sistem dan mekanisme yang terbuka dan terstandarisasi pada pengadaan barang dan jasa65,21
    2. Sistem dan mekanisme yang terbuka dan terstandardisasi pada layanan administrasi kependidikan82,80
    3. Akses stakeholder sekolah/ perguruan tinggi terhadap rencana dan laporan penggunaan anggaran.74,12

02 · Temuan Luar Negeri 2026

59 temuan dalam 16 kelompok temuan

Cakupan pendidikan: Dasar dan Menengah (SD sampai SMA)

Temuan mencatat apa yang dilaporkan di lapangan, terpisah dari skor indeks di atas.

Responden adalah persentase responden yang melaporkan kejadian; satuan pendidikan adalah persentase satuan pendidikan dengan laporan atau kejadian dari responden.

Satuan ukur

Menampilkan 59 dari 59 temuan · nilai dalam % satuan pendidikan.

Rendah (di bawah 34%)Sedang (34–66%)Tinggi (67% ke atas)Warna hanya membantu membaca persentase, bukan kelas risiko resmi. Angka tetap jadi rujukan.

Fasilitas Pembelajaran Tidak Memadai · 2 temuan

  1. T001Fasilitas belajar kurang memadai64,58%
  2. T002Jumlah tenaga pendidik belum mencukupi/memadai75,27%

Gratifikasi · 5 temuan

  1. T003Kebiasaan memberikan bingkisan saat hari raya atau kenaikan kelas75,00%
  2. T007Memberikan uang/bingkisan kepada asesor/pengawas5,13%
  3. T009Menerima bingkisan dari peserta didik agar lebih memperhatikannya33,70%
  4. T010Penerimaan peserta didik karena imbalan tertentu7,14%
  5. T011Persepsi gratifikasi sesuatu yang wajar62,37%

Kecurangan Akreditasi · 2 temuan

  1. T018Kecurangan dalam akreditasi47,62%
  2. T019Tekanan yang mendorong penyesuaian dengan melanggar aturan0,00%

Ketidakdisiplinan Peserta Didik · 3 temuan

  1. T020Melanggar aturan tata tertib93,24%
  2. T021Terlambat datang64,86%
  3. T022Terlambat mengumpulkan tugas85,14%

Ketidakdisiplinan Tenaga Pendidik · 3 temuan

  1. T023Tenaga Pendidik meninggalkan kelas sebelum pembelajaran berakhir30,95%
  2. T024Tenaga Pendidik tidak hadir mengajar34,41%
  3. T025Tenaga Pendidik yang terlambat masuk kelas tanpa alasan65,26%

Ketidakjujuran Akademik Peserta Didik · 3 temuan

  1. T027Melakukan kecurangan dalam ujian (menyontek)43,24%
  2. T028Memilih menyontek daripada belajar36,49%
  3. T031Tidak berani menolak ajakan menyontek50,00%

Ketidakjujuran Sehari-hari Peserta Didik · 5 temuan

  1. T032Berbohong karena takut orang tua/wali marah100,00%
  2. T033Berbohong untuk menyembunyikan kesalahan83,78%
  3. T035Menyalahkan teman agar tidak dihukum36,36%
  4. T036Tidak berani melaporkan teman yang berperilaku buruk43,24%
  5. T037Tidak berani mengakui kesalahan yang dilakukan25,40%

Ketidaktekunan dalam Belajar · 3 temuan

  1. T038Asyik bermain sampai lupa belajar85,14%
  2. T040Tidak mengerjakan tugas kelompok9,09%
  3. T041Tidak mengerjakan tugas yang sulit25,68%

Krisis Keteladanan · 5 temuan

  1. T042Berbicara/berperilaku kasar34,52%
  2. T043Mencontohkan perilaku buruk23,81%
  3. T044Orang tua/wali belum menjadi teladan dalam perilaku jujur16,22%
  4. T045Perilaku yang belum sesuai dengan nilai yang diajarkan78,57%
  5. T046Pimpinan tidak memberikan kesempatan menyampaikan kritik dan saran58,33%

Nepotisme · 4 temuan

  1. T047Mendapatkan promosi karena kedekatan dengan pimpinan23,66%
  2. T048Perlakuan khusus kepada peserta didik32,26%
  3. T049Perlakuan khusus pimpinan kepada tenaga pendidik tertentu21,43%
  4. T050Peserta didik menerima perlakuan khusus saat penerimaan35,71%

Normalisasi Pelanggaran · 7 temuan

  1. T051Kesulitan memantau perilaku anak81,94%
  2. T052Memaklumi perbuatan tidak baik anak61,11%
  3. T053Membiarkan peserta didik yang melanggar aturan28,57%
  4. T054Rela melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah anak63,89%
  5. T055Tidak adanya aturan larangan pemberian hadiah72,92%
  6. T056Tidak mengingatkan anak pentingnya berperilaku baik di mana pun berada29,17%
  7. T057Tidak saling mengingatkan untuk tidak berbuat curang100,00%

Penyalahgunaan Dana BOS · 1 temuan

  1. T058Ketidaksesuaian pemanfaatan dana BOS3,39%

Penyimpangan Pengadaan Barang Jasa · 5 temuan

  1. T060Menerima komisi dari penyedia barang/jasa14,29%
  2. T061Proses PBJ dilakukan secara kurang transparan29,03%
  3. T062Pengadaan sarana dan prasarana tidak sesuai dengan kebutuhan belajar dan mengajar9,52%
  4. T063Penentuan penyedia PBJ berdasarkan relasi pribadi10,71%
  5. T064Pengambilan keputusan terkait PBJ tidak dilakukan secara independen44,87%

Penyimpangan Pengelolaan Keuangan · 4 temuan

  1. T066Kesulitan memperoleh rincian biaya kegiatan sekolah14,29%
  2. T067Ketidakjelasan biaya yang harus dibayarkan orang tua/wali12,50%
  3. T068Ketidakterbukaan sekolah terkait biaya, sumbangan, atau kegiatan sekolah11,90%
  4. T069Komite meminta sumbangan untuk kegiatan yang belum disepakati34,72%

Perilaku Koruptif · 4 temuan

  1. T071Tenaga pendidik memberikan bimbingan belajar dengan bayaran/iuran42,11%
  2. T072Menggunakan fasilitas satuan pendidikan untuk kepentingan pribadi26,19%
  3. T073Praktik pungutan tidak resmi dalam penerimaan peserta didik baru20,83%
  4. T074Praktik pungutan tidak resmi dalam proses sertifikasi/ penyetaraan jabatan11,90%

Permasalahan Inklusivitas · 3 temuan

  1. T075Membanding-bandingkan kemampuan anak64,86%
  2. T076Perbedaan pendapat dengan pimpinan memengaruhi perlakuan34,52%
  3. T077Tenaga pendidik lebih memperhatikan peserta didik yang pintar66,22%

03 · Rekomendasi

Langkah tindak lanjut menurut dimensi

Rujukan bagi satuan pendidikan dan pemangku kepentingan dalam menyusun program perbaikan integritas.

0 dari 3 dimensi terbuka

  1. Mendorong keberanian moral dengan membangun sistem pengaduan yang aman dan mudah diakses oleh peserta didik di seluruh jenjang, disertai jaminan perlindungan bagi pelapor dari risiko dijauhi atau mendapat pembalasan dari lingkungan sebaya. Selain itu, penghargaan atas keberanian untuk bersikap benar juga perlu diberikan setara dengan penghargaan atas prestasi akademik agar keberanian moral dinormalisasi sebagai nilai yang dihargai.

  2. Penguatan pada variabel mandiri dilakukan dengan mendorong pembiasaan kemandirian melalui perencanaan dan pemantauan tugas, latihan pengambilan keputusan berbasis kasus/permasalahan integritas agar peserta didik terbiasa menyelesaikan kewajiban secara mandiri dan bertanggung jawab.

  3. Penguatan pada variabel menghargai dilakukan dengan mendorong peserta didik untuk mengakui kontribusi orang lain dan bersikap tanpa diskriminasi. Satuan pendidikan perlu membiasakan kegiatan kooperatif di kelas yang mensyaratkan setiap anggota kelompok berkontribusi dan diakui perannya secara setara. Di samping itu, tenaga pendidik perlu secara aktif memodelkan sikap menghargai dalam setiap interaksi di kelas, menghargai usaha yang belum berhasil, dan tidak membedakan perlakuan kepada peserta didik berdasarkan kemampuan akademiknya.

  4. Satuan pendidikan perlu melibatkan orang tua/wali melalui forum satuan pendidikan untuk membangun kesadaran bahwa menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk mengakui kesalahan secara jujur jauh lebih penting daripada memberikan respons yang menimbulkan rasa takut. Penguatan nilai kejujuran dan keberanian melalui Pendidikan Antikorupsi perlu ditingkatkan agar peserta didik terbiasa menghadapi dan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

  5. Satuan pendidikan perlu menerapkan kebijakan pengumpulan tugas yang tegas dengan konsekuensi yang diberlakukan secara konsisten, didukung pembiasaan peserta didik untuk merencanakan pengerjaan tugas sejak dini melalui bimbingan tenaga pendidik dalam menyusun jadwal belajar yang realistis agar peserta didik terbiasa memenuhi kewajiban akademiknya tepat waktu.

  1. Pimpinan dan tenaga pendidik perlu menegur secara tegas warga satuan pendidikan yang melanggar tata tertib, sedangkan orang tua/wali dibiasakan untuk tidak memaklumi perilaku buruk anak.

  2. Mendorong penguatan internalisasi nilai keadilan melalui Pendidikan Antikorupsi dan keteladanan tenaga pendidik dalam pengambilan keputusan yang objektif, tidak diskriminatif, dan konsisten berlandaskan aturan serta prinsip yang berlaku.

  3. Instansi pembina/pengawas perlu menyusun kebijakan sanksi bagi satuan pendidikan yang terbukti menerima gratifikasi demi kelulusan, dan larangan manipulasi data demi akreditasi. Tenaga pendidik perlu dibekali panduan mendidik peserta didik untuk menolak kecurangan, dan peran Bimbingan Konseling (BK) mulai diperkuat untuk membangun ketahanan moral peserta didik terhadap tekanan teman atau lingkungan.

  4. Satuan pendidikan perlu menumbuhkan kesadaran saling mengingatkan untuk tidak berperilaku curang sebagai komitmen bersama terhadap ekosistem berintegritas. Satuan pendidikan juga perlu memfasilitasi mekanisme pelaporan yang aman dan terpercaya.

  5. Satuan pendidikan perlu menegakkan tata tertib secara konsisten melalui sosialisasi berkala agar dipahami, diterima, dan dipatuhi sebagai norma bersama di lingkungan pendidikan.

  6. Terkait dengan kesulitan orang tua/wali dalam memantau perilaku anak di dunia maya, satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program literasi digital dan parenting berbasis integritas yang membekali orang tua/wali dengan pemahaman tentang risiko digital serta cara mendampingi anak secara efektif di lingkungan daring.

  1. Sekolah perlu memperkuat independensi pengadaan barang/jasa melalui penetapan kewenangan yang jelas, pemilihan penyedia berdasarkan kriteria objektif, serta pemeriksaan dan dokumentasi setiap keputusan pengadaan untuk mencegah intervensi pihak lain. Sementara itu, instansi pengampu satuan pendidikan dapat melakukan pengawasan kepada satuan pendidikan.

  2. Sekolah perlu memetakan kebutuhan tenaga pendidik dan fasilitas pembelajaran berdasarkan jumlah peserta didik dan kebutuhan pembelajaran, serta menyusun perencanaan dan penggunaan dana BOS sesuai kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada instansi pengampu satuan pendidikan.

  3. Sekolah perlu menyusun dan menetapkan aturan secara tertulis, termasuk larangan pemberian/penerimaan hadiah dan imbalan, disertai pencatatan setiap pelanggaran dan tindak lanjut sanksinya.

Unduh laporan

Segera hadir.

Laporan SPI Pendidikan Luar Negeri 2026 belum tersedia untuk diunduh. Silakan kembali lagi nanti.