Hasil SPI PendidikanKabupaten Bulungan 2026
- Jenjang pendidikan yang dihitung
- SD-SMP/SederajatIndeks ini dihitung dari jenjang di atas saja. Mohon tidak membandingkannya dengan indeks lain yang dihitung dari jenjang berbeda.
Indeks total · Kabupaten Bulungan 2026
72,78
AdaptifPerkembangan integritas pendidikan melalui penerapan nilai-nilai integritas lebih stabil, kolaborasi pemangku kepentingan mulai terarah, serta adanya peningkatan tata kelola meskipun masih memerlukan penyempurnaan.
Pilih tingkat untuk melihat definisi.
01 · Indeks
Dimensi, variabel & indikator
Semua angka di bawah adalah nilai indeks pada rentang 0–100, bukan persentase.
24 variabel · 61 indikator
Terendah di Karakter: Berani52,25
VariabelRentangNilai dimensiTerendah
Kabupaten Bulungan 2026 → Karakter (71,47) →
Berani 52,25
Kekuatan mental atau moral untuk berani, tekun, dan bertahan menghadapi bahaya, ketakutan, atau kesulitan.
3 indikator · nilai indeks 0–100, bukan persentase
- Berani menolak orang lain yang mengajak melakukan kesalahan/pelanggaran47,01
- Berani menegur orang lain yang melanggar etika56,00
- Berani melaporkan orang lain yang melanggar etika walau ada risiko dimusuhi58,68
Nilai variabel merangkum hasil survei dari berbagai kelompok responden dan jenjang pendidikan. Hasilnya dipengaruhi oleh bobot serta data yang tersedia pada setiap tahap perhitungan sehingga hasilnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari semua nilai indikator yang ditampilkan.
02 · Temuan Kabupaten Bulungan 2026
55 temuan dalam 16 kelompok temuan
Cakupan pendidikan: Dasar (SD dan SMP)
Temuan mencatat apa yang dilaporkan di lapangan, terpisah dari skor indeks di atas.
Responden adalah persentase responden yang melaporkan kejadian; satuan pendidikan adalah persentase satuan pendidikan dengan laporan atau kejadian dari responden.
Rendah (di bawah 34%)Sedang (34–66%)Tinggi (67% ke atas)Warna hanya membantu membaca persentase, bukan kelas risiko resmi. Angka tetap jadi rujukan.
Fasilitas Pembelajaran Tidak Memadai · 2 temuan
- T001Fasilitas belajar kurang memadai18,54
- T002Jumlah tenaga pendidik belum mencukupi/memadai48,22
Gratifikasi · 5 temuan
- T003Kebiasaan memberikan bingkisan saat hari raya atau kenaikan kelas25,75
- T007Memberikan uang/bingkisan kepada asesor/pengawas1,64
- T009Menerima bingkisan dari peserta didik agar lebih memperhatikannya2,99
- T010Penerimaan peserta didik karena imbalan tertentu2,94
- T011Persepsi gratifikasi sesuatu yang wajar17,26
Kecurangan Akreditasi · 2 temuan
- T018Kecurangan dalam akreditasi23,53
- T019Tekanan yang mendorong penyesuaian dengan melanggar aturan0,00
Ketidakdisiplinan Peserta Didik · 3 temuan
- T020Melanggar aturan tata tertib77,42
- T021Terlambat datang50,97
- T022Terlambat mengumpulkan tugas72,26
Ketidakdisiplinan Tenaga Pendidik · 3 temuan
- T023Tenaga Pendidik meninggalkan kelas sebelum pembelajaran berakhir16,18
- T024Tenaga Pendidik tidak hadir mengajar20,30
- T025Tenaga Pendidik yang terlambat masuk kelas tanpa alasan30,11
Ketidakjujuran Akademik Peserta Didik · 3 temuan
- T027Melakukan kecurangan dalam ujian (menyontek)17,42
- T028Memilih menyontek daripada belajar15,48
- T031Tidak berani menolak ajakan menyontek14,19
Ketidakjujuran Sehari-hari Peserta Didik · 3 temuan
- T033Berbohong untuk menyembunyikan kesalahan60,65
- T036Tidak berani melaporkan teman yang berperilaku buruk12,90
- T037Tidak berani mengakui kesalahan yang dilakukan14,84
Ketidaktekunan dalam Belajar · 2 temuan
- T038Asyik bermain sampai lupa belajar76,13
- T041Tidak mengerjakan tugas yang sulit3,87
Krisis Keteladanan · 5 temuan
- T042Berbicara/berperilaku kasar6,62
- T043Mencontohkan perilaku buruk7,35
- T044Orang tua/wali belum menjadi teladan dalam perilaku jujur4,52
- T045Perilaku yang belum sesuai dengan nilai yang diajarkan53,68
- T046Pimpinan tidak memberikan kesempatan menyampaikan kritik dan saran34,56
Nepotisme · 4 temuan
- T047Mendapatkan promosi karena kedekatan dengan pimpinan7,11
- T048Perlakuan khusus kepada peserta didik6,09
- T049Perlakuan khusus pimpinan kepada tenaga pendidik tertentu10,29
- T050Peserta didik menerima perlakuan khusus saat penerimaan18,38
Normalisasi Pelanggaran · 6 temuan
- T051Kesulitan memantau perilaku anak56,82
- T052Memaklumi perbuatan tidak baik anak18,94
- T053Membiarkan peserta didik yang melanggar aturan3,68
- T054Rela melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah anak43,94
- T055Tidak adanya aturan larangan pemberian hadiah27,66
- T056Tidak mengingatkan anak pentingnya berperilaku baik di mana pun berada12,88
Penyalahgunaan Dana BOS · 1 temuan
- T058Ketidaksesuaian pemanfaatan dana BOS0,74
Penyimpangan Pengadaan Barang Jasa · 5 temuan
- T060Menerima komisi dari penyedia barang/jasa6,62
- T061Proses PBJ dilakukan secara kurang transparan7,61
- T062Pengadaan sarana dan prasarana tidak sesuai dengan kebutuhan belajar dan mengajar6,62
- T063Penentuan penyedia PBJ berdasarkan relasi pribadi9,56
- T064Pengambilan keputusan terkait PBJ tidak dilakukan secara independen36,07
Penyimpangan Pengelolaan Keuangan · 4 temuan
- T066Kesulitan memperoleh rincian biaya kegiatan sekolah6,62
- T067Ketidakjelasan biaya yang harus dibayarkan orang tua/wali12,12
- T068Ketidakterbukaan sekolah terkait biaya, sumbangan, atau kegiatan sekolah2,94
- T069Komite meminta sumbangan untuk kegiatan yang belum disepakati10,61
Perilaku Koruptif · 4 temuan
- T071Tenaga pendidik memberikan bimbingan belajar dengan bayaran/iuran5,67
- T072Menggunakan fasilitas satuan pendidikan untuk kepentingan pribadi11,03
- T073Praktik pungutan tidak resmi dalam penerimaan peserta didik baru6,06
- T074Praktik pungutan tidak resmi dalam proses sertifikasi/ penyetaraan jabatan0,00
Permasalahan Inklusivitas · 3 temuan
- T075Membanding-bandingkan kemampuan anak38,06
- T076Perbedaan pendapat dengan pimpinan memengaruhi perlakuan11,76
- T077Tenaga pendidik lebih memperhatikan peserta didik yang pintar46,45
03 · Rekomendasi
Langkah tindak lanjut menurut dimensi
Rujukan bagi satuan pendidikan dan pemangku kepentingan dalam menyusun program perbaikan integritas. Pengelompokan menurut dimensi bukan pemetaan sebab-akibat dari tiap temuan.
0 dari 3 dimensi terbuka
Mendorong keberanian moral dengan membangun sistem pengaduan yang aman dan mudah diakses oleh peserta didik di seluruh jenjang, disertai jaminan perlindungan bagi pelapor dari risiko dijauhi atau mendapat pembalasan dari lingkungan sebaya. Selain itu, penghargaan atas keberanian untuk bersikap benar juga perlu diberikan setara dengan penghargaan atas prestasi akademik agar keberanian moral dinormalisasi sebagai nilai yang dihargai.
Penguatan pada variabel mandiri dilakukan dengan mendorong pembiasaan kemandirian melalui perencanaan dan pemantauan tugas, latihan pengambilan keputusan berbasis kasus/permasalahan integritas agar peserta didik terbiasa menyelesaikan kewajiban secara mandiri dan bertanggung jawab.
Penguatan pada variabel menghargai dilakukan dengan mendorong peserta didik untuk mengakui kontribusi orang lain dan bersikap tanpa diskriminasi. Satuan pendidikan perlu membiasakan kegiatan kooperatif di kelas yang mensyaratkan setiap anggota kelompok berkontribusi dan diakui perannya secara setara. Di samping itu, tenaga pendidik perlu secara aktif memodelkan sikap menghargai dalam setiap interaksi di kelas, menghargai usaha yang belum berhasil, dan tidak membedakan perlakuan kepada peserta didik berdasarkan kemampuan akademiknya.
Satuan pendidikan perlu membangun pembiasaan pengelolaan waktu yang terstruktur melalui rutinitas belajar yang konsisten dan terencana, didukung keterlibatan aktif orang tua/wali dalam membantu anak menyeimbangkan waktu bermain dan belajar di rumah, serta penguatan nilai disiplin dan kemandirian melalui Pendidikan Antikorupsi agar peserta didik secara bertahap mampu mengatur prioritas dan memenuhi kewajiban belajarnya secara mandiri.
Instansi pembina/pengawas perlu menyusun kebijakan sanksi bagi satuan pendidikan yang terbukti menerima gratifikasi demi kelulusan, dan larangan manipulasi data demi akreditasi. Tenaga pendidik perlu dibekali panduan mendidik peserta didik untuk menolak kecurangan, dan peran Bimbingan Konseling (BK) mulai diperkuat untuk membangun ketahanan moral peserta didik terhadap tekanan teman atau lingkungan.
Pimpinan dan tenaga pendidik perlu menegur secara tegas warga satuan pendidikan yang melanggar tata tertib, sedangkan orang tua/wali dibiasakan untuk tidak memaklumi perilaku buruk anak.
Mendorong penguatan internalisasi nilai keadilan melalui Pendidikan Antikorupsi dan keteladanan tenaga pendidik dalam pengambilan keputusan yang objektif, tidak diskriminatif, dan konsisten berlandaskan aturan serta prinsip yang berlaku.
Terkait dengan kesulitan orang tua/wali dalam memantau perilaku anak di dunia maya, satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program literasi digital dan parenting berbasis integritas yang membekali orang tua/wali dengan pemahaman tentang risiko digital serta cara mendampingi anak secara efektif di lingkungan daring.
Satuan pendidikan perlu menegakkan tata tertib secara konsisten melalui sosialisasi berkala agar dipahami, diterima, dan dipatuhi sebagai norma bersama di lingkungan pendidikan.
Satuan pendidikan perlu melembagakan dan menerapkan standar pengajaran inklusif dengan memberikan kesempatan, perhatian, serta dukungan yang proporsional kepada seluruh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing, tanpa membedakan berdasarkan tingkat kemampuan akademik.
Satuan pendidikan perlu melakukan pembinaan kepada tenaga pendidik dengan mengaitkan nilai yang diajarkan sejalan dengan praktik nyata. Pembentukan ekosistem berintegritas di lingkungan pendidikan tidak hanya mengandalkan kurikulum atau program, tetapi juga penguatan nilai-nilai oleh tenaga pendidik melalui perilaku nyata.
Sekolah perlu memetakan kebutuhan tenaga pendidik dan fasilitas pembelajaran berdasarkan jumlah peserta didik dan kebutuhan pembelajaran, serta menyusun perencanaan dan penggunaan dana BOS sesuai kebutuhan yang selanjutnya disampaikan kepada instansi pengampu satuan pendidikan.
Sekolah perlu memperkuat independensi pengadaan barang/jasa melalui penetapan kewenangan yang jelas, pemilihan penyedia berdasarkan kriteria objektif, serta pemeriksaan dan dokumentasi setiap keputusan pengadaan untuk mencegah intervensi pihak lain. Sementara itu, instansi pengampu satuan pendidikan dapat melakukan pengawasan kepada satuan pendidikan.
Sekolah perlu menyusun dan menetapkan aturan secara tertulis, termasuk larangan pemberian/penerimaan hadiah dan imbalan, disertai pencatatan setiap pelanggaran dan tindak lanjut sanksinya.

